Kamis, 15 Desember 2011

Teknologi pembuatan pupuk organik berkualitas


Teknologi pembuatan pupuk organik berkualitas adalah pemyempurnaan teknologi pupuk kompos dengan pendekatan ilmu mikrobiologi atau yang disebut pupuk lengkap organik hayati atau disebut pupuk hayati.
Perbedaan prinsip antara pup uk hayati dengan pupuk kompos adalah di proses penguraian pupuk organiknya. Pada pupuk hayati proses penguraiannya melalui proses fermentasi, sedangkan pada pupuk kompos melalui proses pembusukan. "Karena melalui proses fermentasi, maka pupuk hayati lebih banyak mengandung senyawa organik, asam amino, protein, gula, alkohol dan mikroorganisme yang bermanfaat," kata Bahara Sihombing STh penyuluh swadaya UP FMA di Simalungun, Sumatera Utara.
Di Jepang, pupuk hayati terkenal dengan nama Bokashi yang artinya humus hutan yang sudah lama, karenanya mempunyai kandungan unsur hara yang tinggi dan mikroorganisme yang menguntungkan. Ada dua proses dasar untuk pembuatan pupuk hayati yakni 1) bahan baku dan 2) proses pembuatan. Untuk bahan bakunya semakin bervariasi, semakin kecil ukuran bahan, serta kondisi yang masih segar dan kering akan membuat kualitas bokashi yang dihasilkan semakin baik. Bahan baku utama yang digunakan untuk membuat Bokashi disesuaikan dengan kapasitas limbah organik yang ada pada suatu lokasi tertentu. Misalnya blotong pada pabrik gula, bungkil dan sludge di pabrik minyak sawit, sampah organik di perkotaan, jerami, kotoran ternak di sentra-sentra peternakan.
Untuk meningkatkan kualitas bokashi, di samping bahan baku utama tersebut, perlu ditambahkan bahan-bahan lain (subtituen) untuk pengkayaan unsur hara dan menetralisir logam-logam berat yang mungkin terkandung dalam limbah organik penyusun bokashi. Antara lain eceng gondok, humus Azolla, tepung tulang ikan, arang batok kelapa, susu kadaluarsa atau air cucian beras pertama.
Di samping bahan baku yang telah dipilih, proses pembuatan bokashi juga menentukan kualitas bokashi yang dihasilkan. Faktor penting dalam proses pembuatan bokashi adalah keberadaan dan aktifitas mikroorganisme sebagai pelaku utama pembuatan bokashi. Proses pembuatan yang perlu diperhatikan antara lain: pertama, jenis, jumlah dan kualitas mikroorganisme. Biasanya dalam proses ini bekerja bakteri, fungi, ragi dan Actmomycetes. Semakin bertambahnya jenis atau jumlah mikroorganisme, diharapkan proses fermentasi semakin  cepat dan kualitas bokashi yang dihasilkan semakin bagus.
Kedua, kelembaban dan aerasi. Kelembaban yang diharapkan adalah 30-40%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme bekerja secara optimal. Kelembaban yang terlalu rendah atau tinggi dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau mati. Adapun kebutuhan aerasi dapat dilakukan secara semi an aerob. Sebaiknya tumpukan adonan/bahan dibalik jika kelembaban tinggi, selain itu dapat juga dilakukan dengan cara force aeration (menghembuskan udara dengan kompressor) atau dengan efek cerobong (memasukkan  udara melalui cerobong). Namun pemberian aerasi yang terbaik adalah dengan cara pembalikkan bahan. Perlakuan ini sekaligus untuk homogenitas bahan.
Ketiga, temperatur. Temperatur optimal sekitar 30-50°C (hangat). Bila temperatur terlalu tinggi mikroorganisme kurang efektif bekerjanya. Bila temperatur terlalu rendah, maka mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman. Jika temperatur terlalu tinggi dapat dilakukan pembalikan bahan. Proses pembuatan bokashi sebaiknya di tempat yang teduh, terlindung dari sengatan sinar matahari dan hujan secara langsung. Keempat, pH (keasaman). Kisaran pH yang baik adalah 6,5-7,5 (netral).
Bahara Sihombing mencontohhkan untuk Pembuatan satu ton bokashi, dengan bahan baku 80% bahan organik tambahan + 10 % dedak + 10% pupuk kandang, dengan bahan cair/palarutnya : 1 It larutan mikroba + lit molas (gula) + air secukupnya. Bahan organik tambahan antara lain jerami, arang sekam, tepung tulang, limbah sampah kota, dll.
Bahan baku tersebut diaduk secara merata, kemudian dicampurkan dengan bahan pelarutnya secara merata. Diaduk hingga kelembaban tidak lebih dari 30-40%. Kelembaban dapat diketahui melalui alat pengukur kelembaban (hidrometer) atau dapat dilakukari secara manual, yaitu dengan cara meremas adonan dengan tangan. Adonan yang telah tercampur merata tadi diambil satu genggam tangan, dikepal dengan kuat, tidak tampak air menetes dan bila kepalan tangan dibuka maka masih tampak adonan menggumpal, maka kelembaban sudah memenuhi persyaratan. Tapi apabila kepalan tersebut sampai meneteskan air, maka adonan terlalu basah; sehingga perlu penambahan dedak. Jika adonan tidak meneteskan air dan dibuka adonan masih tampak pecah/ remah, maka perlu penambahan air secukupnya.
Adonan yang sudah tercampur merata dan kelembabannya cukup, ditutup dengan rapat atau diusahakan suhunya tidak lebih dari 50 derajat C disiapkan dalam ruangan yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung ataupun hujan, kurang lebih 7 hari atau sampai adonan tampak tanda-tanda telah jadi bokashi.
Bokashi yang sudah jadi ditandai dengan tumbuhnya jamur berwana putih (fermentasi) pada permukaan bahan, baunya tidak busuk dan tidak berbau, melainkan cenderung netral ke arah asam manis, tidak terjadi proses panas lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar