Sabtu, 31 Desember 2011

SOP budidaya padi organik

LOKASI : LEMBAH MENOREH, KULON PROGO, DIY....Mr. Galuh Agro Mandiri


Pengolahan Tanah
Sebagai persiapan,taburkan pupuk kandang fermentasi secara merata dipermukaan lahan sebanyak 2 ton/ha.
Selanjutnya tanah digaru sambil disemprot larutan POC Warung Tani I dengan dosis 10ml/liter air; WT Bakterisida Dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/ lt air
Pada saat menggaru dan meratakan tanah, usahakan agar air tidak mengalir di dalam sawah supaya unsur hara yang ada di tanah tidak hanyut.Setelah tanah diratakan, buatlah parit di bagian pinggir dan tengah tiap petakan sawah untuk memudahkan pengaturan air.
Menyiapkan Benih yang Bermutu
Kebutuhan benih untuk tanaman padi adalah 10 - 15 kg/hektar lahan, benih harus diperam terlebih dahulu selama satu hari satu malam, tidak boleh lebih.
Membuat Persemaian
Persemaian  dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu Persemaian Basah dan Persemaian Kering. Persemaian Basah adalah persemaian yang langsung dilakukan dilahan pertanian, seperti pada sistem konvensional.
Persemaian Kering adalah persemaian yang dilakukan dengan menggunakan wadah berupa kotak/besek/wonca/pipiti. Untuk lahan seluas satu hektar dibutuhkan wadah persemaian ukuran 20 cm x 20 cm, sebanyak 80—100 buah.
Tahapan membuat persemaian adalah sebagai berikut:
1.    Siapkan media persemaian dengan cara mencampur tanah dengan pupuk kompos/ pupuk kandang fermentasi/bokhasi dengan perbandingan 1:1;
2.    Sebelum wadah diisi dengan media, lapisi dulu bagian dalamnya dengan daun pisang yang sudah dilemaskan dengan cara dijemur atau dipanaskan di atas api;
3.    Masukkan media ke dalam wadah hingga 3/4 penuh. Siram media peersemaian tersebut dengan air supaya lembab;
4.    Tebarkan benih ke dalam wadah. Jumlah benih per wadah antara 300—350 biji;
5.    Taburkan arang sekam di atas benih sampai rata melapisi/menutupi benih;
6.    Simpan wadah-wadah tersebut di tempat yang teduh. Pada hari pertama dan hari kedua, sebaiknya wadah-wadah tersebut ditutupi supaya tidak kepanasan;
7.    Jika disimpan di pekarangan, jangan lupa untuk meletakkan wadah-wadah ini ditempat yang aman dari gangguan ternak seperti ayam;
8.    Penyiraman bisa dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan bibittanaman tetap segar.
9.    Lakukan penyemprotan POC  Warung Tani I dengan dosis 10 ml/ltr air & WT Zpt dosis 2 ml/lt air pada saat benih mulai tumbuh, dan ulangi 5 hari berikutnya.
Penanaman
Bibit siap dipindahkan ke lahan setelah mencapai umur 14 - 16 hari persemaian. Kondisi air pada saat tanam adalah “macak-macak”(kondisi tanah basah, tapi tidak tergenang).

Pemupukan Setelah Tanam
Larutan POC Warung Tani I dengan dosis 10 ml/liter air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt disemprotkan secara periodik antara 3 – 7 hari sekali pada saat padi berumur 5 hst s/d 45 hst, dilanjutkan dengan penyemprotan POC Warung Tani II dengan dosis 10 ml/liter air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt sampai padi menjelang panen. Kebutuhan pupuk organik cair per hektar sekitar 20 liter.
Pada kondisi pertumbuhan yg tdk maksimal/lahan tadah hujan, lihat pertumbuhan tanaman sampai 21 hst, jk kurang maksimal tambahkan pupuk sintetis : Urea : 80 kg/ha, Tsp : 100 kg/ha, Kcl : 100 kg/ha.
Pengelolaan Air dan Penyiangan
Proses pengelolaan air dan penyiangan dilakukan, sebagai berikut:
1.    Ketika padi mencapai umur 1-8 hari sesudah tanam (HST), pertahankan keadaan air di lahan tetap “macak-macak”;
2.    Setelah padi mencapai umur 9-10 HST, genangkan air dengan ketinggian 2-3 cm selama 1 malam. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses penyiangan tahap pertama;
3.    Setelah disiangi, keringkan sawah sampai padi mencapai umur 18 HST;
4.    Pada umur 19-20 HST sawah kembali digenangi untuk memudahkanpenyiangan tahap kedua;
5.    Selanjutnya, setelah padi berbunga, sawah diairi kembali setinggi 1-2 cm. Pertahankan  kondisi ini sampai padi “masak susu” (± 15—20 hari sebelum panen);
6.    Kemudian keringkan kembali sawah sampai saat panen tiba;
7.    Usia panen tergantung pada varietas padi yang ditanam. Untuk varietas hibrida panen bisa dilakukan pada usia 72 hari, sedangkan untuk varietas lokal sekitar 92 hari.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Pengendalian hama dilakukan dengan sistem PHT. Dengan sistem ini, petani diajak untuk mengelola unsur-unsur dalam agroekosistem (seperti matahari, tanaman, mikroorganisme, air, oksigen, dan musuh alami) sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman.
Lakukan penyemprotan  WT Bvr dengan dosis  10 ml/liter air secara berkala,atau dilakukan bersamaan pada saat penyemprotan pupuk untuk pencegahan serangan hama serangga. Tingkatkan dosis duakali lipat pada saat terjadi serangan.
Lakukan penyemprotan WT Bacterisida & WT Trico/Glio dengan dosis masing-masing 10 ml/liter air secara berkala,atau dilakukan bersamaan pada saat penyemprotan pupuk untuk pencegahan serangan hama virus, jamur, & bakteri yang merusak tanaman. Tingkatkan dosis duakali lipat pada saat terjadi serangan.  Untuk pengendalian gulma, gunakan tenaga manusia tanpa memakai herbisida apapun. Gunakan alat bantu yang disebut “susruk”/ “ landak”, yaitu alat semacam garu yang berfungsi sebagai alat pencabut gulma. Dengan menggunakan alat ini,gulma yang sudah tercabut sekaligus akan dibenamkan kembali ke dalam tanah,sehingga akan menambah bahan organik tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar