Senin, 27 Agustus 2012

Budidaya Baby Corn



Deskripsi
  • Baby corn atau biasa disebut jagung semi atau jagung putri sebenarnya merupakan tongkol jagung yang dipanen waktu muda (belum berbiji).
  • Mulanya sayuran ini hanya sebagai hasil sampingan panen jagung sehingga jumlahnya relatif sedikit dan sukar didapatkan di pasaran.
  • Padahal sayuran ini sudah lama dikenal di Indonesia dan umumnya dipakai dalam masakan sehari-hari atau perhelatan (pesta), antara lain dalam masakan cap cay, sop, oseng-oseng, dan sebagainya.

Syarat Tumbuh
  • Baby corn dapat tumbuh pada daerah berketinggian 0-1.300 m dpl.
  • Dapat hidup baik di daerah yang beriklim panas atau dingin dengan temperatur sekitar 23 – 27° C.
  • pH sekitar 5,5 – 7,0.
  • Tanah yang disukai baby corn adalah tanah yang gembur, kaya akan humus, dan tingkat kemiringan yang tidak lebih dari 8%.
  • Namun demikian, baby corn masih dapat berproduksi tinggi pada tanah yang tidak terlalu subur asalkan mendapatkan pemeliharaan yang teliti.
  • Seperti juga jagung, baby corn dapat ditanam secara tumpang sari atau secara rotasi dengan padi.


Pedoman Budidaya
·         Baby corn tidak perlu disemaikan, melainkan langsung ditanam pada lahan yang telah diolah.
·         Bersamaan saat pengolahan lahan, pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak sekitar 2 ton/ha dilakukan.
·         Penyemprotan larutan POC WarungTani I dosis 10 ml/lt air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air  & WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air merata ke permukaan lahan., diamkan selama 7 hari.
·         Kemudian buatlah lubang tanam berjarak 75 x 15 cm beserta saluran air (drainase).
·         Setelah pengolahan lahan selesai, benih segera dimasukkan ke dalam lubang tanam.
·         Setelah itu, lubang tanam ditutupi dengan tanah.
·         Sebelum ditanam, benih perlu direndam  dengan larutan POC WarungTani I dosis 10 ml/lt air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air, & WT Zpt dosis 2 ml/lt air
·         Bersamaan dengan penanaman benih, lakukanlah pemupukan dasar, yaitu dengan Urea 20 kg/ha, TSP 35 kg/ha, KCl 15 kg/ha,.
·         Pupuk diberikan dengan cara ditugal pada jarak sekitar 5 cm dari tiap lubang tanam.

Pemeliharaan
  • Penyiangan dilakukan sesering mungkin agar baby corn jangan sampai terganggu gulma.
  • Pada hari ke-20, dilakukan pembumbunan yang dibarengi dengan pemberian Urea sebanyak 20 kg/ha.
  • Pemberian Urea diulangi kembali saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam, yaitu sebanyak 20 kg/ha.
  • Untuk menjamin kesempurnaan struktur daun dan pertumbuhan tongkol yang optimal, serta untuk mencegah serangan penyakit bulai pada baby corn, lakukan penyemprotan larutan POC WarungTani I dosis 10 ml/lt air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air  & WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air secara periodik 5 – 7 hari sekali .
  •  Pemberian/penyiraman air cukup dilakukan sekali sehari apabila tidak turun hujan.
  • Jika kondisi lahan sangat kering, penyiraman dapat ditambah agar tanaman tidak kekeringan, terutama pada saat pertumbuhan dan pembungaan.
  • Pemeliharaan yang lain adalah pembuangan bunga jantan (detasseling) yang dilakukan setelah bunga jantan keluar, tetapi belum sempat mekar (sekitar 5-6 minggu setelah tanam). Caranya adalah batang digoyang perlahan-lahan agar pelepah daun agak melebar. Selanjutnya tangkai bunga jantan dicabut dengan tangan.
  • Pemeliharaan yang penting adalah membuang tunas liar/tunas air yang sering tumbuh pada cabang atau batang bawah.
  • Gulma/alang-alang yang tumbuh di kebun apel harus segera dibersihkan.
  • Demikian pula bila ada lumut (Lichenes) yang tumbuh pada batang harus dibersihkan.
  • Daun-daun yang menutup buah harus dirompes karena buah yang tidak terkena sinar matahari warnanya tidak akan merata (hijau merah atau hijau kuning).

Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit baby corn adalah hama dan penyakit tanaman jagung yang masih muda (saat pertumbuhan dan pembungaan), antara lain sebagai berikut.
  • Lalat bibit (Antherigona exiqua Stein) ditandai dengan matinya tanaman yang baru mulai tumbuh. Pencegahan dan pemberantasannya dapat dilakukan dengan penyemprotan WT Bvr  dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air & WT Ajuvant  WT dosis 2 ml/lt air. Penyemprotan dilakukan setiap 5 - 7 hari sekali, dimulai 5 hari setelah tanam.
  • Ulat tongkol (Heliothis armigera HSN) ditandai dengan rusaknya tongkol, terutama apabila panen terlambat. Pemberantasannya sama seperti pemberantasan lalat bibit.
  • Penggerek batang (Sesamia inferens) ditandai dengan adanya lubang-lubang pada batang karena hama ini masuk dan mengisap cairan batang, terutama saat tanaman telah berbunga. Tindakan pencegahan, seperti pada lalat bibit saat tanaman baby corn akan berbunga.
  • Ulat daun (Prodenia litura F) ditandai dengan rusaknya daun karena hama ini memakan daun baby corn, terutama pada waktu tanaman mulai berumur satu bulan. Pemberantasannya sama seperti pemberantasan lalat bibit.
  • Ulat tanah (Agrotis sp) dimulai sejak tanaman baby corn mulai tumbuh. Ulat ini memakan tanaman sampai habis. Pencegahannya dilakukan dengan cara tanah difumigasi sebelum penanaman dimulai. Sedangkan pemberantasannya dilakukan dengan cara ulat yang biasanya terdapat di dalam tanah dicari dan dibunuh.
  • Bulai (Corn downy mildew) Gejala serangan ditandai dengan adanya garis kuning lebar pada daun yang merupakan benang cendawan. Pada pagi hari, akan timbul tepung putih menutupi daerah yang berwarna kuning itu, terutama bagian bawah. Bila penyakit terbawa dari benih, tanda serangan akan timbul sejak daun masih muda. Penularan penyakit ini dapat melalui benih dan spora yang terbawa angin. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Sclerospora maydis atau disebut pula Peronossclerospora maydis. Sebaiknya penyakit ini dicegah dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap penyakit ini. Benih direndam dengan POC WarungTani I dosis 10 ml/lt air, WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air  & WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air sebelum ditanam secara serentak. Lakukan penyemprotan WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air  & WT Ajuvant  dosis 2 ml/lt air secara berkala 5 – 7 hari sekali.
  • Helminthosporium Gajala serangan ditandai dengan adanya bercak kuning yang dikelilingi warna cokelat pada daun, pelepah, dan tongkol. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Helminthosporium turcicum atau Helminthosporium maydis. Pengendaliannya dilakukan dengan cara rotasi tanaman, sedangkan pemberantasannya dilakukan dengan penyemprotan WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air  & WT Ajuvant  dosis 2 ml/lt air secara berkala 5 – 7 hari sekali.
  • Karat Gajala serangan ditandai dengan adanya noda kecil berwarna merah karat di atas permukaan daun bagian atas. Pada bercak itu terdapat tepung berwarna cokelat dan terasa kasar seperti karat bila diraba. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Puccinia polyspora. Pengendaliannya dilakukan dengan penanaman varietas yang tahan terhadap penyakit ini, sedangkan pemberantasannya dilakukan dengan penyemprotan WT Bakterisida dosis 10 ml/lt air, WT Trico/Glio dosis 10 ml/lt air  & WT Ajuvant  dosis 2 ml/lt air.

Panen dan Pasca Panen
  • Panen dilakukan dua hari setelah rambut tongkol keluar (silking) pada pagi atau sore hari.
  • Setelah tongkol keluar, harus dilakukan pengontrolan agar panen tidak terlambat. Sebab keterlambatan sehari saja bisa mengurangi kualitas baby corn. Hal ini disebabkan semakin hari tongkol akan semakin mengeras dan membesar sehingga tidak memenuhi mutu yang disukai konsumen.
  • Sebaliknya panen tongkol yang lebih awal akan diperoleh baby corn yang masih terlalu lunak. Sehingga ujung tongkol lebih mudah patah kualitasnya menurun.
  • Ditinjau dari segi standar mutu baby corn, memang belum ada ketentuan baku tentang standar mutu.
  • Setiap konsumen memiliki standar mutu sendiri misalnya :
§  Taiwan menetapkan panjang baby corn sekitar 10 cm dan diameter sekitar 1,2 cm;
§  Philipina menetapkan panjangnya sekitar 4-11 cm dan diameternya sekitar 0,8-1,18 cm;
§  Dieng Jaya menetapkan mutu grade A 7,5 cm, grade B 7,5 – 8,5 cm, dan grade C 8,5 – 9,5 cm;
§  NAI menetapkan panjangnya 4,5 -11 cm dan diameternya ‘ 1,5-1,8 cm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar